Geomorfologi
Pada hakekatnya
geomorfologi dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang roman muka bumi beserta
aspek-aspek yang mempengaruhinya. Adapun bentangalam (landscape) didefinisikan
sebagai panorama alam yang disusun oleh elemen elemen geomorfologi dalam
dimensi yang lebih luas dari terrain, sedangkan bentuk-lahan (landforms) adalah
komplek fisik permukaan ataupun dekat permukaan suatu daratan yang dipengaruhi
oleh kegiatan manusia.
Pada dasarnya
geomorfologi mempelajari bentuk bentuk bentangalam; bagaimana bentangalam itu
terbentuk secara kontruksional yang diakibatkan oleh gaya endogen, dan
bagaimana bentangalam tersebut dipengaruhi oleh pengaruh luar berupa gaya
eksogen seperti pelapukan, erosi, denudasi,sedimentasi. Air, angin, dan
gletser, sebagai agen yang merubah batuan atau tanah membentuk bentang alam
yang bersifat destruksional, dan menghasilkan bentuk-bentuk alam darat tertentu
(landform).
Pengaruh struktur
(perlipatan, pensesaran, pengangkatan, intrusi, ketidakselarasan, termasuk
didalamnya jenis-jenis batuan) yang bersifat kontruksional, dan proses yang
bersifat destruksional (pelapukan, longsoran kerja air, angin, gelombang,
pelarutan, dan lainnya), sudah diakui oleh para ahli geologi dan geomorfologi
sebagai dua buah paramenter penting dalam pembentukan rupa bumi. Selain itu
batuan sebagai bagian dari struktur dan tahapan proses geologi merupakan faktor
cukup penting.
Proses
terbentuknya bentanglahan, baik bentang lahan alami maupun bentang budaya,
dapat diterangkan berdasar 3 komponen, yaitu: (a) komponen lingkungan alam, (b)
lingkungan sosial, dan (c) ideologi. 2 (dua) komponen utama dapat diamati oleh
panca indera, sehingga dapat memunculkan suatu kenampakan, sedangkan komponen
ideologi lebih berkaitan dengan akal dan hati yang tidak terlihat secara kasat
mata.
Masing-masing
komponen memiliki sub komponen. Sebagai contoh pada komponen lingkungan alami
terdapat sub komponen: relief, batuan, air, dan iklim yang saling berinteraksi.
Interaksi ini disebut dengan interaksi horisontal, yang akan menciptakan
kenampakan bentang tersendiri. Selain itu juga terdapat interaksi vertikal,
yaitu interaksi yang terjadi antara komponen yang saling mempengaruhi, misalnya
antara lingkungan alam dan lingkungan sosial. Tiga komponen tersebut
berhubungan satu dengan yang lainnya dan tidak dapat dipisahkan.
Bentuk Lahan Berdasarkan Proses Pembentukannya.
Hasil pengerjaan
dan proses utama pada lapisan utama kerak bumi akan meninggalkan kenampakan
bentuk lahan tertentu disetiap roman muka bumi ini. Kedua proses ini adalah
proses endogen (berasal dari dalam) dan proses eksogen (berasal dari luar).
Perbedaan intensitas, kecepatan jenis dan lamanya salah satu atau kedua proses
tersebut yang bekerja pada suatu daerah menyebabkan kenampakan bentuk lahan
disuatu daerah dengan daerah lain umumnya berbeda.
Dilihat dari
genesisnya (kontrol utama pembentuknya), bentuk lahan dapat dibedakan menjadi :
• Bentuk asal struktural
• Bentuk asal vulkanik
• Bentuk asal fluvial
• Bentuk asal marine
• Bntuk asal pelarutan karst/solusional
• Bentuk asal aeolin
• Bentuk asal denudasional
• Bentuk asal glasial
• Bentuk asal organik
• Bentuk asal antropogenik
1.
Bentuk Lahan Struktural
Pada dasarnya
bentuk lahan asal structural adalah suatu lahan yang terbuat dari tenaga
endogen. Ciri –ciri dari lahan structural sendiri adalah . Dip dan Strike batuan
resisten - non resisten jelas Horizon kunci jelas Adanya sesar, kekar, pecahan:
gawir sesar, sesar bertingkat Adanya materi interusif: dike, kubah granitik. Selain
itu contoh dari bahan lahan structural adalah seperti pegunungan , plato ,
graben , sembul
2.Bentuk
Lahan Vulkanik
Volkanisme adalah berbagai fenomena
yang berkaitan dengan gerakan magma yang bergerak naik ke permukaan bumi.
Akibat dari proses ini terjadi berbagai bentuk lahan yang secara umum disebut
bentuk lahan vulkanik. Umumnya suatu bentuk lahan volkanik pada suatu wilayah
kompleks gunung api lebih ditekankan pada aspek yang menyangkut aktifitas kegunungapian,
seperti : kepundan, kerucut semburan, medan-medan lahar, dan sebagainya. Tetapi
ada juga beberapa bentukan yang berada terpisah dari kompleks gunung api misalnya
dikes, slock, dan sebagainya.
Bentuklahan
vulkanik secara sederhana dibagi menjadi 2, yaitu bentuk-bentuk eksplosif
(krater letusan, ash dan cinder cone) dan bentuk-bentuk effusif (aliran
lava/lidah lava, bocca, plateau lava, aliran lahar dan lainnya) yang membentuk
bentangan tertentu dengan distribusi di sekitar kepundan, lereng bahkan kadang
sampai kaki lereng. Struktur vulkanik yang besar biasanya ditandai oleh erupsi
yang eksplosif dan effusif, yang dalam hal ini terbentuk volkanostrato.
3.Bentuk
Lahan Fluvial
Suatu bentukan
yang berhubungan dengan daerah - daerah penimbunan (sedimentasi) seperti di
sekitar lembah-lembah sungai besar dan dataran aluvial. Bentukan asal fluvial berkaitan
erat dengan aktifitas sungai dan air permukaan yang berupa pengikisan,
pengangkutan, dan jenis buangan pada daerah dataran rendah seperi lembah,
ledok, dan dataran alluvial.
Proses penimbunan
bersifat meratakan pada daerah-daerah ledok, sehingga umumnya bentuk lahan asal
fluvial mempunyai relief yang rata atau datar. Material penyusun satuan betuk
lahan fluvial berupa hasil rombakan dan daerah perbukitan denudasional disekitarnya, berukuran
halus sampai kasar, yang lazim disebut sebagai alluvial. Karena umumnya
reliefnya datar dan litologi alluvial, maka kenampakan suatu bentuk lahan
fluvial lebih ditekankan pada genesis yang berkaitan dengan kegiatan utama sungai
yakni erosi, pengangkutan, dan penimbunan.
Aktifitas marine
yang utama adalah abrasi, sedimentasi, pasang-surut, dan pertemuan terumbu
karang. Bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktifitas marine berada di kawasan
pesisir yang terhampar sejajar garis pantai. Pengaruh marine dapat mencapai
puluhan kilometer kearah darat, tetapi terkadang hanya beberapa ratus meter
saja. Sejauh mana efektifitas proses abrasi, sedimentasi, dan pertumbuhan
terumbu pada pesisir ini, tergantung dari kondisi pesisirnya. Proses lain yang
sering mempengaruhi kawasan pesisir lainnya, misalnya :
Tektonik masa lalu, berupa gunung api,
perubahan muka air laut (transgresi/regresi) dan litologi penyusun.
Bentuk Lahan Marine merupakan kelompok
besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses laut oleh tenaga gelombang,
arus, dan pasang-surut.
5.Bentuk
Lahan Pelarutan Karst
Menurut Ford dan
Williams, (1989) Karst adalah bentuklahan yang ditimbulkan oleh batuan mudah
larut yang memiliki porositas sekunder yang baik serta memiliki karakteristik hidrologi
khusus. Selain pada batugamping bentuklahan karst dapat juga berkembang pada
tipe batuan lain seperti dolomit, gypsum dan batugaram.
Bentuk lahan karst
dihasilkan oleh proses pelarutan pada batuan yang mudah larut. Menurut Jennings
(1971), karst adalah suatu kawasan yang mempunyai karekteristik relief dan drainase
yang khas, yang disebabkan keterlarutan batuannya yang tinggi. Dengan demikian
Karst tidak selalu pada Batugamping, meskipun hampir semua topografi karst
tersusun oleh batu gamping.
Fenomena kawasan
karst merupakan fenomena unik yang terdapat di permukaan bumi. Secara
geomorfologis, kawasan karst merupakan daerah yang dominan berbatuan karbonat.
Kawasan karst
merupakan kawasan yang mudah rusak.
6.Bentuk
Lahan Aeolin
Gerakan udara atau
angin dapat membentuk medan yang khas dan berbeda dari bentukan proses lainnya.
Endapan angin terbentuk oleh pengikisan, pengangkatan, dan pengendapan material
lepas oleh angin. Endapan angin secara umum dibedakan menjadi gumuk pasir dan
endapan debu.
Umumnya gumuk
pasir terbentuk pada pantai berpasir yang landai dan datar, ada angin yang
berhembus dengan kecepatan tinggi, sinar matahari kontinyu, ada akumulasi pasir
yang berasal dari sungai yang bermuara di situ, terdapat bukit penghalang di
belakang pantai dan tumbuhan berupa spinifex lithorus, pandanus, calanthropus
gigantae, ipomoa pescaprae dan kaktus. Beberapa ciri khusus antara lain
berstruktur sedimen permukaan gelembur gelombang (ripple mark) akibat
pergeseran butiran pasir pengaruh arah angin, perlapisan horisontal di bagian
dalam, lapisan bersusun dan silang siur.( Fandeli 2009)
7.Bentuk
Lahan Denudasional
Denudasi berasal
dari kata dasar nude yang berarti telanjang, sehingga denudasi berarti proses
penelanjangan permukaan bumi. Denudasi cendurung akan menurunkan bagian permukaan
bumi yang positif hingga mencapai bentuk permukaan bumi yang hamper datar
membentuk dataran nyaris (pineplain).
Denudasi meliputi
dua proses utama yaitu Pelapukan dan perpindahan material dari bagian lereng
atas ke lereng bawah oleh proses erosi dan gerak massa batuan (masswashting).
Proses
denudasional (penelanjangan) merupakan kesatuan dari proses pelapukan gerakan
tanah erosi dan kemudian diakhiri proses pengendapan. Semua proses pada batuan
baik secara fisik maupun kimia dan biologi sehingga batuan menjadi desintegrasi
dan dekomposisi. Batuan yang lapuk menjadi soil yang berupa fragmen, kemudian
oleh aktifitas erosi soil dan abrasi, tersangkut ke daerah yang lebih landai
menuju lereng yang kemudian terendapkan.
8.Bentuk
Lahan Glasial
Geomorfologi
Gletser saat ini adalah kurang penting pengaruhnya pada zaman sekarang dalam
membentuk bentuk tanah, kecuali di lintang tinggi dan pada ketinggian tinggi,
tetapi
gletser yang ada
selama Pleistosen meninggalkan jejak pada banyak jutaan mil persegi pada
permukaan bumi. Beberapa 4,000,000 mil persegi di Amerika Utara, 2.000.000 mil
persegi di Eropa
dan mungkin 1.500.000 mil persegi di Siberia adalah glaciated. Selain itu,
banyak daerah rendah tertutup oleh tudung es ( ice caps) lokal. Ribuan lembah
gletser ada di pegunungan di mana sekarang ada tidak baik gletser atau hanya
sebagian kecil.
9.Bentuk
Lahan Organik
Merupakan kelompok
besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat aktivitas organisme
(flora dan fauna). Bentuklahan asal organik adalah bentuklahan atau landform
yang secara alamiah terbentuk dari proses kegiatan makhluk hidup contohnya
adalah bentuklahan terumbu karang (coral reefs).
Terumbu karang adalah masa endapan
kapur (limestone/CaCO3) dimana endapan kapur ini terbentuk dari hasil sekresi
biota laut pensekresi kapur (coral/karang).
10.Bentuk
Lahan Antropogenik
Bentuk lahan atau
Iandform adalah bentukan alam di permukaan bumi khususnya di daratan yang
terjadi karena proses pembentukan tertentu dan melalui serangkaian evolusi
tertentu pula (Mulyanto, 2009). Sukmantalya (1995), menjelaskan bahwa bentuk
lahan merupakan suatu kenampakan medan yang terbentuk oleh proses alami,
memiliki komposisi tertentu dan karakteristik fisikal dan visual dengan julat
tertentu yang terjadi dimanapun bentuk lahan tersebut terdapat. Lebih lanjut Giryasih
(2013) mengemukakan bahwa berkaitan dengan data bentuk-lahan, tanah, hidrologi,
dan sebagainya, dapat merumuskan alternatif-Alternatif dan strategi
pengembangan guna perencanaan penggunaan lahan. Sedangkan (Whait 1988), bahwa
bentuk lahan adalah kenampakan medan yang dibentuk oleh proses-proses alami
yang mempunyai susunan tertentu dan julat karakteristik fisik dan visual di
mana bentuk lahan itu terbentuk. Verstappen (1983), mengemukakan bahwa ada
beberapa faktor geomorfologi mayor yang berpengaruh dalam pengembangan lahan
yaitu bentuk lahan, proses geomorfologis, dan kondisi tanah. Lebih lanjut
dijelaskan, bahwa bentuklahan mencakup kemiringan lahan, proses geomorfologi;
mencakup banjir, tanah longsor, dan
bahaya dari proses alam yang merugikan, sedangkan mengenai kondisi tanah,
antara lain mencakup kedalaman batuan dari pelapukan material.
Karakteristik geomorfologis dalam hal
ini bentuk lahan/medan memberikan informasi yang dapat menentukan dalam
penggunaan lahan suatu daerah tertentu.
Antropogenik
merupakan proses atau akibat yang berkaitan dengan dengan aktivitas manusia.
Sehingga bentuk lahan antropogenik dapat disebut sebagai bentuk lahan yang terjadi
akibat aktivitas manusia. Aktivitas tersebut dapat berupa aktivitas yang telah
disengaja dan direncanakan untuk membuat bentuk lahan yang baru dari bentuk
lahan yang telah ada maupun aktivitas oleh manusia yang secara tidak sengaja
telah merubah bentuk lahan yang telah ada.
Aktivitas
antropogenik di Indonesia banyak jumlahnya, namun tidak semuanya menghasilkan
bentuk lahan yang potensial. Misalnya aktivitas reklamasi pada pantai dapat menyebabkan
erosi dan abrasi pada pantai tersebut. Aktivitas pembangunan waduk yang kurang
tepat juga menyebabkan kerusakan pada daerah tangkapan hujan sekitar waduk sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada
lapisan tanah berupa rekahan dan retakan tanah. Oleh karena itu, aktivitas
antropogenik dalam merubah lahan hendaknya memperhatikan dampak terhadap lahan
disekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA
·
Fandeli
dan Muhammad. 2009., Prinsip-prinsip Dasar Mengkonservasi Lanskap.Yogyakarta:
Universitas Gadjah Mada Press.
·
Ford
dan Williams, 1989., Karst Geomorphoogy and Hidrology. London:
McGraw-Hill Book Company.
·
Giyarsih,
S.R, 2013., Modul Pelatihan Daerah Aliran Sungai (DAS). Disiapkan Dalam
Pelatihan Karakterisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) di Bali Tanggal 13-15 Mei
2013
·
Jennings.
1971. Karst Geomorphology. 2nd Edition. New York
: Basil Blackwell
·
Murniyati.
2007., Pengaruh Pengunjung Terhadap Iklim Mikro dan Kenyamanan Lingkungan
(Studi Kasus dalam Goa Petruk Desa Candirenggo Kecamatan Ayah, Kabupaten
Kebumen, Jawa Tengah. Skripsi: Universitas Gadjah Mada
·
Mulyanto.
D dan surono. 2009., Pengaruh Topografi Dan Kesarangan Batuan
Karbonat Terhadap Warna Tanah Pada Jalur Baron–Wonosari Kabupaten Gunungkidul,
DIY Forum Geografi, vol. 23, no. 2, desember 2009: 181 – 195.
·Inc.
·
Sukmantalya.K.I.Nyoman.
1995. Pengenalan Secara Tinjau Geomorjologi dan Terapannya Melalui Survei
Penginderaan Jauh Untuk Interpretasi Sumberdaya Lahan. Bakosurtanal
·
Whait,
W.B, 1988., Geomorphologhy and Hydrology of Karst Terrains, Oxford
University Press, New York







Tidak ada komentar:
Posting Komentar